Sunday, September 03, 2006


Mencari ''Sastra Wangi'' di Tumpukan Jerami
--Hari Kedua KSJ II

SASTRA Jawa, tak bisa dimungkiri, masihlah dunia lelaki. Dominasi kaum Adam begitu terlihat, dari daftar sastrawan yang mengikuti Kongres II Sastra Jawa (KSJ) yang dihelat di Semarang sejak Jumat (1/9) lalu. Dari sekitar 100-an peserta yang datang dari Jateng, DI Yogyakarta, Jatim, dan bahkan Jakarta, barangkali sastrawan dari kalangan perempuan tak lebih 20%.

Ya, diakui atau tak, memang tak terlampau banyak perempuan penulis sastra Jawa. Kalaupun ada, sebagian sudah memasuki usia sepuh, kendati dedikasi dan produktivitas mereka tak perlu diragukan.

Di kalangan pencinta sastra Jawa, siapa tak kenal nama Mbah Brintik, Sri Widati Pradopo, atau Diah Hadaning? Atau, dari kalangan yang lebih muda, ada juga nama Trinil. Nyaris pada saban edisi sejumlah kalawarti, semacam Panjebar Semangat, Djaka Lodhang, atau Damar Jati, acapkali nama-nama itu terselip di antara tulisan para lelaki.

Lantas, benar-benar tak adakah perempuan penulis sastra Jawa dari kalangan yang lebih muda? Benarkah tak ada penerus kegemilangan para peneguh sastra Jawa itu?

Tak perlu didera khawatir berlebihan. Di antara sastrawati Jawa, yang jumlahnya amat sedikit itu, terselip nama Siti Aminah. Untuk ukuran penulis Jawa, usianya terbilang masih muda, belum lagi genap 30 tahun. Tapi penulis asal Yogyakarta itu cukup rajin menyambangi media dengan tulisan-tulisannya, baik dalam wujud esai maupun cerita cekak (cerkak).

Meninggalkan

Di sisi lain, dia punya kelebihan dalam soal progresivitas gagasan. Cuatan gagasannya tentang perikehidupan sastra kadang terasa meloncat jauh, menembus batas. Kalau orang lain khawatir sastra Jawa akan ditinggalkan, dia justru menyebut, sastra Jawa telah meninggalkan pendukungnya. Hah?

''Sastra Jawa harus terbuka menerima perubahan, ia bukan semata-mata warisan adiluhung dengan segala batas-batasnya. Tanpa itu, sastra Jawa bisa disebut telah meninggalkan pendukungnya, membiarkan mereka berkutat dengan persoalan keseharian, dan sastra ditempatkan semata sebagai penghiburan.''

Itu disampaikan penulis yang acap menggunakan sandinama Ami EN, ketika menjadi pembicara pada diskusi hari kedua KSJ di Karya Graha Mahasiswa (KGM) Jl Kelud Utara III, Semarang, Sabtu (2/9). Selain dia, diskusi yang dimoderatori Kelik SW itu, menghadirkan Mbah Brintik, Sri Widati Pradopo, dan dosen Univet Bantara Sukoharjo Farida Nugrahani. Rencananya, kongres yang dihelat secara swaragat oleh para sastrawan Jawa itu akan ditutup, Minggu (3/9).

''Semangat nguri-nguri sastra Jawa yang dianut sebagian sastrawan, saat ini sudah tidak relevan lagi. Sastra Jawa tidak cukup sekadar tidak mati. Upaya menghidupkan sastra Jawa harus menjadikannya bagian kehidupan masyarakat, di mana ia tidak berjarak dengan penikmatnya. Karena sastra merupakan cermin kehidupan mereka,'' kata Aminah, yang pernah melanglang ke sejumlah negara Amerika Latin.

Ya, tak perlu khawatir sastra Jawa akan mati. Sepanjang, sastrawan-sastrawan muda dan progresif yang menghidupkannya terus bermunculan. Moga-moga, juga dari kalangan perempuan. (Achiar M Permana)

Sumber: Suara Merdeka, 3 September 2006
Bisakah (Sastra) Jawa Membendung Perubahan?

--Hari Pertama KSJ II

PERUBAHAN, kata dalang wayang dongeng Ki Trontong Sadewa, merupakan kehendak zaman. Sebagai keniscayaan, ia tak bisa ditentang. Owah-owahan kuwi wus kodrate titah, kata dia, sunnatullah. Siapa melawan akan menjadi martir tersia, atau kalau pun beruntung, akan terkucil sebagai makhluk terasingkan.

Begitu ''khotbah'' yang disampaikan Trontong lewat lakon wayang dongeng ''Geger Jagat Kancil'', semalam, di hadapan seratusan sastrawan Jawa. Trontong memainkan pertunjukannya di halaman Karya Graha Mahasiswa (KGM) kampus Unnes lama Jl Kelud Utara III, dalam rangkaian Kongres II Sastra Jawa (KSJ).

Lakon itu berkisah tentang dunia yang telah berubah oleh owah gingsiring jaman. Karena perubahan itu, terjadi ''kekisruhan'' di rimba raya, tempat Macan Gembong berkuasa dan sekaligus tempat Kancil menjalankan tugas kehidupan.

Seperti biasa, Trontong menghadirkan pertunjukan yang egaliter, akrab, dan interaktif. Nyaris tak ada jarak antara dia dan penontonnya, baik dalam pengertian jarak komunikasi maupun jarak yang sebenarnya.

Kalau dicermati, situasi yang digambarkan lakon itu paralel dengan kehidupan budaya Jawa sekarang, tentu juga bahasa dan sastranya. Berbagai pergulatan internal dan juga gesekan pengaruh perubahan di luarnya, tidak bisa tidak menuntut budaya Jawa berubah. Kadang-kadang timbul soal, karena ada anasir internal yang keukeuh pada establisitas budaya Jawa.

Paparan yang disampaikan dalang asal Tegal Ki Enthus Susmono pada sarasehan sesudah pertunjukan itu, juga menyampaikan pesan senada. Tak bisa, pasti tak bisa, sastra Jawa menghindar dari owah-owahan. Kalau tetap defensif terhadap perubahan, sandyakala sastra--dan lebih umum lagi, budaya Jawa--tinggal membilang.

Senada itu, pada sesorah (orasi) yang disampaikan budayawan Darmanto Jatman, beberapa jam sebelum pertunjukan itu, indikasi orang-orang yang berpaham semacam itu sudah diungkapkan. Darmanto menyebut tengara munculnya fundamentalisme Jawa, yakni orang-orang yang mencintai Jawa secara membabi-buta.

''Mereka itu jenis orang yang tak mau ada pihak lain yang berbeda dalam menyikapi Jawa. Itu yang justru membuat Jawa tidak maju, tidak gaul,'' ujarnya.

Arswendo Atmowiloto yang menyampaikan makalah berjudul ''Kawula Pitados'' pada pembukaan KSJ, siang kemarin, mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, mestinya Jawa dikembalikan ke khittah-nya, sebagai entitas budaya yang fleksibel.

Gayeng

Keakraban yang muncul pada pentas wayang dongeng itu, sejalan dengan suasana yang melingkupi hari pertama KSJ. Terlihat betul, betapa 100-an sastrawan, akademikus, dan kritikus sastra itu berkumpul dalam suasana yang hangat. Guyub.

Terlihat di antara mereka, sastrawan gaek yang masih bersemangat muda Suparto Brata, JFX Hoery, Mbah Brintik, penulis gagrak suroboyoan Trinil, hingga anggota DPD Drs Sudharto MA. Dari kalangan muda, hadir Bonari Nabonenar (Surabaya), Suwardi Endraswara, Dhanu Priyo Prabowo, Siti Aminah (Yogyakarta). Selain itu, ada juga terlihat sejumlah akademisi dari Undip, Unnes, UNS, Univet Bantara Sukoharjo, Unesa Surabaya, UNY, dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Sesi dialog dengan pembicara Arswendo Atmowiloto, sesorah oleh Darmanto, maupun sarasehan antarsanggar sastra Jawa ditelangkai oleh keguyuban itu. Maka, tak terasa suasana kongres yang kaku, seram, dan penuh intrik, laiknya perhelatan partai politik atau ormas tertentu. Yang terlihat justru suasana gayeng, penuh guyonan, dan canda pertanda keakraban.

Wajar saja, mereka memang datang dari entitas yang sama. Sebagian sudah saling mengenal, baik secara pribadi, maupun--setidaknya--lewat karya-karya yang telah terterbitkan atau termuat di media massa. Selain itu, mereka datang ke kongres itu dengan niatan yang nyaris serupa: menghidup-hidupkan sastra Jawa. (Achiar M Permana)

Sumber: Suara Merdeka, 2 September 2006

Dimeriahkan Wayang Dongeng dan Sesorah Darmanto --Pembukaan KSJ II

SEMARANG-Kalau tak ada aral, pembukaan Kongres II Sastra Jawa (KSJ) akan dilaksanakan di Karya Graha Mahasiswa (KGM) Unnes kampus lama Jl Kelud Utara III, Jumat (1/9) sore mulai pukul 15.00. Pembukaan itu akan dimeriahkan oleh wayang dongeng yang mengusung lakon ''Geger Jagat Kancil''.

Selain itu, budayawan Darmanto Jatman dijadwalkan menyampaikan sesorah (orasi) tentang upaya mempertegas posisi KSJ dalam upaya pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

Dalang wayang dongeng Ki Trontong Sadewa, yang juga seksi acara KSJ II menyampaikan, lakon itu mengisahkan tentang perubahan pada dunia. Seperti juga manusia, seiring dengan pertambahan usia, dunia mengalami sejumlah perubahan.

''Sebenarnya, perubahan itu sebuah hal yang wajar dan mestinya disikapi secara wajar pula. Wus kodrate titah kuwi owah. Dalam lakon itu akan tersampaikan sindiran tentang perilaku manusia yang suka mencari pembenaran sendiri bukannya kebenaran untuk bersama,'' terangnya, Kamis (30/8).

Terkait dengan penyelenggaraan KSJ, kata Trontong, nanti malam mulai pukul 20.30, akan digelar Kongres on Air yang ditayangkan di Cakra Semarang TV. Masyarakat umum dan pamarsudi sastra Jawi yang tidak bisa mengikuti kongres, bisa mengikuti perhelatan para sastrawan Jawa itu melalui program ''Ginem Jawi''.

Pada hari-hari biasa, program itu berdurasi satu jam. Namun, khusus untuk sebagai bentuk dukungan kepada KSJ, ''Ginem Jawi'' diperpanjang durasinya menjadi satu setengah jam. Rencananya, akan dihadirkan sejumlah pembicara, antara lain Arswendo Atmowiloto, peraih Hadiah Sastra Rancage Suparto Brata, serta sejumlah sastrawan Jawa.

''Tema yang akan dikupas, yakni 'Sahabipraya amrih Kuncara' atau membangun kemitraan untuk perkembangan sastra Jawa,'' ujar Trontong.

Tiga Hari

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia KSJ Robi Shani menjelaskan, kongres akan diikuti oleh 124 peserta dari pelbagai kalangan. Mereka berasal dari sastrawan atau pengarang Jawa, akademikus, mahasiswa, kritikus, dalang, dan panatacara. Selain itu, terdapat pula sejumlah wartawan dan praktisi penerbitan.

Kongres rencananya digelar selama tiga hari, hingga Minggu (3/9), dipusatkan di KGM dan Joglo Sanggar Seni Paramesti. Selain persidangan, kongres partikelir yang dihelat secara swaragat oleh para sastrawan dan pemerhati sastra Jawa itu, akan diwarnai sejumlah aktivitas kesenian dan kesastraan.

''Untuk akomodasi peserta, kami telah mem-booking sekitar 40 kamar di dua penginapan, yakni Wisma Pascasarjana Unnes Bendanngisor dan Wisma Tuladha, yang berada di kompleks arena kongres,'' tutur Rhobi.


Rencananya, Arswendo akan tampil sebagai pemakalah perdana. Penulis kondang yang lahir dari rahim sastra Jawa itu akan menyampaikan makalah berjudul ''Kawula Pitados'', yang berisi keyakinan dia akan tetap hidupnya sastra dan budaya Jawa.

Malam harinya, selepas sesorah Darmanto dan wayang dongeng, akan dilaksanakan sarasehan antarsanggar. Sejumlah panggilut sastra Jawa yang dipastikan hadir, yakni Sri Haryatmo (Sanggar Sastra Yogyakarta), Nono Warnono (Paguyuban Pamarsudi Basa lan Sastra Jawi Bojonegoro), Bonari Nabonenar (Organisasi pengarang Sastra Jawa Surabaya), Tiwiek SA (Sanggar Triwida Tulungagung), Triman Laksana (Jagat Jawa Magelang), serta sastrawan Triyanto Triwikromo. (H9)

Sumber: Suara Merdeka, 1 September 2006

Sastra Jawa Tak Bisa Lepas dari Media

SEMARANG-Keberlangsungan sastra, termasuk sastra Jawa, tidak mungkin terlepas dari media massa. Pemuatan informasi dan juga karya, merupakan salah satu penyambung kehidupan sastra Jawa.

Peneliti dari Balai Bahasa Yogyakarta Dhanu Priyo Prabowo, Rabu (30/8) mengatakan, media massa merupakan pilar penting dalam pengembangan sastra Jawa. Tidak saja media berbahasa Jawa, semacam Panjebar Semangat atau Jaka Lodhang, melainkan juga dari media-media berbahasa Indonesia.

''Pemuatan tulisan atau karya sastra berbahasa Jawa di sejumlah media cetak umum, merupakan langkah berani yang patut diapresiasi,'' kata Dhanu, yang juga editor sejumlah penerbitan buku tentang sastra Jawa.

Dikatakannya, pemuatan cerita bersambung (cerbung) berbahasa Jawa di sejumlah edisi Suara Merdeka, memiliki kontribusi yang tidak kecil terhadap pengembangan sastra Jawa. ''Akan lebih bermakna, kalau media-media berbahasa Indonesia lainnya, juga terdapat ruang untuk dimasuki sastra Jawa. Tidak saja tulisan yang mengupas tentang sastra Jawa, melainkan juga memuat karya-karya kreatif berbahasa Jawa,'' harap Redaktur Khusus Damar Jati, majalah berbahasa Jawa terbitan Jakarta tersebut.

Penting diketahui, Suara Merdeka memiliki tiga cerbung berbahasa Jawa, dengan dialek yang berbeda-beda. Pada edisi ''Suara Banyumas'', terdapat cerbung berbahasa banyumasan Jegingger karya Ahmad Tohari, yang melanjutkan Ronggeng Dukuh Paruk dari sastrawan yang sama. Cerbung Saridin Mokong karya Sucipto Hadi Purnomo, yang berbahasa dialek Pati, terbit untuk edisi ''Suara Muria''. Sementara, untuk edisi ''Suara Solo'', dipasang cerbung Ledhek Kethek karya Arswendo Atmowiloto, yang diterjemahkan oleh Sugeng Wiyadi.

Dibahas Khusus

Relasi media dan sastra Jawa itu, kata Dhanu, akan menjadi salah satu topik bahasan dalam Kongres II Sastra Jawa (KSJ), yang dihelat secara swaragat di Semarang, 1-3 September mendatang. Untuk mengupas itu, panitia telah mengundang sejumlah pembicara berlatar belakang praktisi media massa dan penerbitan.
Dari kalangan pers, telah mengonfirmasikan kehadiran Arswendo Atmowiloto, Wapemred Suara Merdeka Hendro Basuki, Triyanto Triwikromo, Y Sarworo Suprapto dari ''Mekar Sari'' Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, serta Pemred Damar Jati Gunarso PS . Sementara itu, Indra Ismawan dari penerbit Narasi dan H Soewanto dari Aneka Ilmu juga telah menyatakan kesediaan untuk menjadi pemakalah. (H9)

Sumber: Suara Merdeka, 31 Agustus 2006

Tuesday, August 29, 2006


Diluncurkan, Blog Kongres Sastra Jawa
--www.sastrajawi.blogspot.com

SEMARANG-Tiga hari menjelang pelaksanaan Kongres II Sastra Jawa (KSJ), Selasa (29/8), panitia meluncurkan blog yang berisi informasi terkait dengan perhelatan tersebut. Situs yang beralamat di www.sastrajawi.blogspot.com --ya yang sekarang tengah Anda buka ini--bisa diakses oleh mereka yang memerlukan informasi-informasi dasar tentang penyelenggaraan KSJ, termasuk para wartawan.

Wakil Ketua Panitia KSJ II Bonari Nabonenar menjelaskan, lewat blog tersebut bisa diakses informasi tentang dasar penyelenggaraan, konsep, serta sejarah penyelenggaraan kongres para sastrawan (Jawa) itu. Di dalam situs yang dibuat sejak beberapa bulan lalu tersebut, termuat sejumlah informasi yang bersumber dari pemberitaan di media massa, termasuk Suara Merdeka.

''Ada juga tulisan dari sastrawan atau pemerhati sastra Jawa, yang terkait dengan KSJ, baik yang berbahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Boleh dibilang, sebagian isi blog itu merupakan e-kliping dari sejumlah pemberitaan tentang KSJ,'' kata Bonari.

Dijelaskannya, berkaca dari penyelenggaraan sejumlah event besar, semacam konferensi, muktamar, atau kongres organisasi lain, orang memerlukan informasi-informasi dasar. Biasanya, hal itu bisa dicukupi dengan penerbitan buku panduan atau jurnal. Pada era digital seperti sekarang, kebutuhan untuk mengakses data cepat terakomodasi oleh internet.

''Kami ingin menunjukkan, para panggilut sastra Jawa tak boleh gaptek, tetap harus berkarib dengan perkembangan teknologi. Sebenarnya, kami ingin 'memanjakan' masyarakat dan juga teman-teman wartawan dengan situs yang lebih representatif. Tapi, mengingat anggaran yang terbatas, akhirnya bloglah yang menjadi pilihan,'' kata sastrawan asal Surabaya itu.

Bersahaja

Ketika Suara Merdeka mencoba mengeklik blog tersebut, semalam, hanya dalam beberapa detik langsung terlihat tampilannya. Dari sisi desain web, ''situs resmi KSJ'' memiliki tampilan yang amat bersahaja, dengan memanfaatkan template yang disediakan oleh penyedia layanan gratis itu.

Didominasi warna putih tanpa gambar latar belakang, tanpa ornamen yang menyesakkan mata. Font yang dipilih menunjukkan rata-rata berkarakter tegas dan memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi.

Begitu masuk, pengunjung dihadapkan pada banner ''Kongres Sastra Jawa II''. Di bawah tulisan itu, terdapat aforisma ''Amrih Menang Tanpa Ngasorake'' yang dikutip dari Ki Ageng Suryomentaram. Tertulis pula, nickname Baris Pendhem sebagai blogmaster, yang mereka blog tersebut.

''Terima kasih banget, jika ada yang rida mengirim tulisan atau gambar untuk semakin memperlengkap dan mempercantik blog itu. Silakan dikirim via e-mail di sastrajawa@yahoo.com,'' imbuh Bonari. (H9)

Menandingi Kongres Bahasa Jawa
Oleh Sucipto Hadi Purnomo

TAK mudah menepis anggapan Kongres Sastra Jawa (KSJ) merupakan tandingan Kongres Bahasa Jawa (KBJ). KSJ II yang akan dihelat di Semarang 30 Juni - 2 Juli 2006 telanjur dikesankan secara oposisional dengan KBJ IV yang akan digelar 5 - 10 Juli 2006. Benarkah lewat acara tersebut genderang perlawanan telah ditabuh? Tepatkah menempatkan kedua perhelatan kebudayaan itu sebagai dua hal yang berhadap-hadapan secara diametral? Tulisan ini berusaha memahami kedua kongres itu, baik dalam perspektif historisnya beserta dinamika yang melingkupi maupun dalam kacamata sosiologis.

Penyelenggaraan Kongres Bahasa Jawa I, lima belas tahun yang silam di Semarang tak lepas dari situasi yang dirasa makin tidak kondusif bagi kehidupan bahasa Jawa. Berbagai ratap pilu selalu mewarnai forum bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Ratapan itu berkisar pada makin teralienasinya bahasa Jawa dari kehidupan nyata masyarakat pendukung budaya Jawa, terutama yang tinggal di tiga provinsi: Jateng, Jatim, dan Yogyakarta. Generasi muda Jawa pun dianggap makin tidak akrab dengan bahasa daerahnya, sehingga ancaman akan kematian bahasa Jawa kian membayang.

Kemauan Besar

Kemauan besar para pemangku wewenang, terutama di kalangan birokrasi untuk menghidup-hidupi bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Nusantara itulah yang mendorong kelahiran KBJ. Kongres ini diyakini sebagai forum yang memiliki wibawa untuk mengurai segala persoalan tersebut sekaligus mencarikan jalan keluarnya.

Tak tanggung-tanggung, tiga pemerintah provinsi memberikan dukungan nyata. Bahkan Presiden (kala itu) Soeharto yang membuka dan memberikan kata sambutan pada KBJ I Tahun 1991. Wajar saja jika harapan besar ditumpukan kepadanya.

Namun dalam perjalanannya hingga menjelang penyelenggaraan yang keempat ini, KBJ terbukti tak mampu secara optimal, jika tak boleh disebut gagal, mengartikulasikan persoalan aktual, penting, dan mendesak berkaitan dengan kehidupan bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Kongres sekadar sebagai ajang untuk menumpuk makalah yang pada umumnya sekadar memenuhi akuntabilitas akademik sehingga gagah pada tingkat wacana namun miskin implementasi. Karena itu berbagai ungkapan sinis pun bermunculan.

Ketika ditanyakan apa yang dihasilkan oleh Kongres Bahasa Jawa yang sudah berlangsung tiga kali itu? Jawabannya kongres tidak menghasilkan apa-apa. Kongres Bahasa Jawa I hanya menghasilkan Kongres Bahasa Jawa II. Kongres Bahasa Jawa II hanya menghasilkan Kongres Bahasa Jawa III. Demikian pula Kongres Bahasa Jawa III, hanya menghasilkan Kongres Bahasa Jawa IV.

Pernyataan tersebut tidaklah sepenuhnya benar, karena itu juga tidak sepenuhnya keliru. Tidak sepenuhnya benar karena sesungguhnya ada sekian banyak rekomendasi yang ditelurkan dari kegiatan tersebut. Butir-butir rekomendasi tersebut tentu saja berkisar pada upaya-upaya nyata untuk mempertahankan bahasa Jawa termasuk dengan pembentukan Dewan Bahasa Jawa.

Untuk melaksanakan rumusan tersebut direkomendasikanlah pembentukan Badan Pekerja Kongres. Namun sejauh yang saya ketahui, tak pernah ada badan tersebut terutama di tengah-tengah persiapan penyelenggaraan KBJ IV ini. Yang ada hanyalah sebuah tim, semacam prapanitia yang kemudian menjadi panitia yang mempersiapkan penyelenggaraan kongres. Mengherankan pula Dewan Bahasa Jawa di provinsi ini justru secara institusional bisa dikatakan tidak ikut cawe-cawe (sengaja tidak dilibatkan?) dalam KBJ.

Jika yang diposisikan sebagai pelaksana dan pengawal putusan kongres saja tidak pernah terbentuk masihkah pantas diharapkan putusan tersebut terwujud secara nyata?

Menyadari akan segala kelemahan tersebut, penyelenggara KBJ IV berusaha mengubah orientasi. Kongres diarahkan tidak hanya berkutat pada tataran ontologi dan epistemogi tetapi lebih dititikberatkan pada tataran aksiologi.

Kekecewaan Sastrawan

Lantas mengapa diselenggarakan pula Kongres Sastra Jawa? Kemunculan KSJ tak bisa dimungkiri berawal dari kekecewaan sejumlah sastrawan Jawa terhadap penyelenggaraan KBJ II Tahun 1996 di Malang dan KBJ III 2001 di Yogyakarta. Mereka yang selama ini jelas-jelas dengan penuh dedikasi menghidup-hidupi bahasa dan sastra Jawa boleh dibilang tak tersapa.

Bersamaan dengan itu perbincangan terhadap sastra Jawa (terutama yang modern) di KBJ berkesan sambil lalu. Lebih dari itu KSJ digagas sebagai sebentuk formula kritik konstruktif dan mekanisme kontrol atas penyelenggaraan KBJ. Karena itu semangat yang diusung adalah kemandirian dan gagasan-gagasan progresif yang dibalut dalam kesahajaan.

Masih mengesan di benak saya bagaimana KSJ I Tahun 2001 digelar di Solo. Bukan di hotel berbintang melainkan di Taman Budaya Surakarta. Di sanalah mereka berkongres dan menginap. Selama tiga hari para peserta dijamu dengan makanan kelas nasi bungkus warung hik dan minuman teh hangat dalam gelas.

Tak ada honorarium untuk semua pembicara semacam Arswendo Atmowiloto dan WS Rendra yang konon sudah menyatakan sanggup berbicara lagi pada KSJ II. Malahan beberapa dari pembicara menyumbangkan uangnya. Karena itu oleh panitia kontribusi peserta yang hanya Rp 20.000 pun dikembalikan lagi kepada para peserta pada akhir acara. Sebuah penyelenggaraan yang jauh dari kesan memproyekkan.

Penyelenggaraan semacam itu tentu saja mampu menerbitkan empati. Namun karena semangat dan dedikasi saja tidak cukup untuk mengaktualisasikan rumusan yang dihasilkan perlu dibangun kemitraan dengan berbagai pihak. Lebih dari sepuluh sanggar/paguyuban pengarang/dewan kesenian yang tersebar di tiga provinsi sebagai penyelenggara kongres tersebut juga tidak cukup memadai untuk mewujudkannya.

Karena itu para penggagas merumuskan tema "Membangun Kemitraan untuk Sastra Jawa" untuk KSJ II. Berbeda dari KSJ I pada KSJ II semangat perlawanan terhadap KBJ sesungguhnya mulai disisihkan. Meski demikian kemandirian dan pikiran yang lebih progresif demi menampakkan sastra dan bahasa Jawa yang lebih segar lebih mengemuka. Maklumlah kongres ini dimotori oleh para pengarang, penulis, dan akademisi muda dengan dukungan sastrawan sepuh.

Karena itu sungguh sangat tidak relevan jika kemudian ada pihak yang mencoba merayu agar tidak usah digunakan kata "kongres" dengan kompensasi sekian puluh juta rupiah bagi penyelenggara KSJ karena khawatir ia menjadi tandingan. Bukankah Ketua Panitia KSJ II Sendang Mulyana juga telah menegaskan sungguh tidak pada tempatnya jika KSJ yang hanya bermodalkan semangat itu ditempatkan sebagai tandingan kongres lain yang dibiayai lima miliar rupiah lebih.

Maka dari itu sesungguhnya yang lebih baik dilakukan adalah dibangun hubungan yang lebih konstruktif dan saling menghormati. Malahan kalau perlu bersinergi. Persis dengan pernyataan Ketua Panitia Pengarah KBJ IV Drs H Sutadi, ''sampun wancinipun para panggilut basa lan sastra Jawi sami saiyeg saeka kapti".

Akhirnya apa pun yang akan tergelar semua pantas bersenang hati bahwa hasrat untuk menghidup-hidupi bahasa dan sastra daerah kian hari tampak meningkat. Apalagi untuk Jawa Tengah boleh dibilang tahun ini merupakan musim kongres. Sebab 4 April 2006 mendatang juga akan digelar Kongres Bahasa Tegal di Kota Tegal. (14)

--Sucipto Hadi Purnomo, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes

Sumber: Suara Merdeka, 26 Maret 2006
Arswendo Pembicara KSJ II

SEMARANG - Arswendo Atmowiloto, sastrawan yang lahir dari rahim sastra Jawa, telah mengonfirmasikan kehadirannya pada Kongres II Sastra Jawa (KSJ) yang akan digelar di Semarang pada 1-3 September. Dijadwalkan, sastrawan yang namanya kembali melambung lewat serial Keluarga Cemara itu akan menyampaikan makalah "Agar Sastra(wan) Jawa Kian Cerdas".

Ketua Panitia KSJ II Sucipto Hadi Purnomo mengemukakan hal itu, kemarin. Dia menyatakan kehadiran pencetus jargon "mengarang itu gampang" tersebut memberikan makna cukup kuat dalam KSJ.

"Arswendo merupakan salah seorang penggagas dan pendukung KSJ I di Solo pada tahun 2001," ujar dia.

Selain Arswendo, kata dia, beberapa sastrawan dan pemerhati sastra Jawa juga memastikan kehadiran mereka. Misalnya, Suparto Brata dari Jawa Timur, Diah Hadaning, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Tengah Sudharto.

Pengamat budaya Amrih Widodo (National University) dan George Quinn (Northern University) dari Australia juga menunjukkan minat untuk hadir. "Dari Jawa Tengah, dalang asal Tegal Ki Enthus Susmono menyatakan siap jadi pembicara. Mereka semua bersedia jadi pembicara tanpa honorarium. Maklum, KSJ kami selenggarakan secara swaragat, hasil iuran para sastrawan Jawa," ujar dia.

Kongres itu merupakan forum pertemuan antara para pengarang, kritikus, pengajar, penerbit, dan para pemangku wewenang (stakeholders) sastra Jawa lain. Mereka bakal merekomendasikan hal-hal strategis untuk meningkatkan derajat kehidupan sastra Jawa.

Dia berharap forum itu bisa menjadi ajang untuk mengaji ulang dan menindaklanjuti hasil KSJ I di Solo. Selain itu, peserta akan merumuskan rencana strategis untuk mewujudkan kemitraan demi kehidupan sastra Jawa yang lebih sehat dan produktif.

KSJ juga mengakomodasi para sastrawan muda dan calon pakar sastra dari kampus. ''Kehadiran para mahasiswa merupakan tengara KSJ memang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk anak-anak muda yang menggeluti sastra Jawa," katanya.

Dia berharap peminat yang belum menerima undangan bisa menghubungi panitia via 081325646887. (H9-53)

Sumber: SM CyberNews, 14 Agustus 2006

Friday, August 11, 2006


Kongres II Sastra Jawa Dihelat secara Swaragat

KONGRES II Sastra Jawa (KSJ) akan dihelat secara swaragat di Semarang, 1-3 September. Kegiatan bertema "Membangun Kemitraan untuk Sastra Jawa" itu akan menjadi kongres partikeliran ala para sastrawan Jawa.

"Kami akan menggelar kongres itu secara sangat sederhana. Teman-teman yang peduli bantingan (urunan-Red). Kemungkinan besar kami tak bisa memberikan honorarium kepada pembicara. Namun, alhamdulillah, para calon pembicara bersedia tidak kami bayar, kecuali perjamuan dan penginapan sangat sederhana," kata Bonari Nabonenar, Sekretaris Panitia KSJ, kemarin.

Dia tak menampik bahwa pendanaan masih jadi persoalan. Namun para pengarang antusias mendukung acara itu. "Ada yang menyokong berupa uang, ada yang menghibahkan buku sastra untuk dibagikan ke peserta, ada pula yang menyumbangkan 25% honorarium tulisan di media. Bahkan ada yang menyatakan siap menggadaikan BPKB mobil jika dana yang terkumpul belum juga mencukupi."

Dia mengemukakan sampai 27 Juli masih menerima konfirmasi dari para ahli sastra, sastrawan, dan pemerhati bahasa-sastra untuk brerpartisipasi, baik sebagai pemakalah maupun peserta. ''Kami mengakomodasi pemerhati sastra Jawa dari kalangan muda, misalnya mahasiswa atau pegiat sastra Jawa di kampus.''

Semula kongres akan diadakan pada 1-3 4 Juli. Namun sebagai wujud empati terhadap pengarang yang tertimpa bencana di Yogya-Klaten, panitia mengubah jadwal.

Belum Optimal

Kongres itu merupakan forum pertemuan antara para pengarang, kritikus, pengajar, penerbit, dan para pemangku kewenangan (stakeholders) sastra Jawa. Mereka bakal merekomendasikan berbagai hal strategis untuk meningkatkan derajat kehidupan sastra Jawa.

KSJ I digelar di Solo, 6-7 Juli 2001, dengan beberapa keputusan dan rekomendasi. Setelah lima tahun sebagian besar rekomendasi belum dilaksanakan secara optimal. Karena itu perlu kembali diadakan Kongres Sastra Jawa.

Masalah kerja sama perlu mendapat prioritas pembahasan dan pemecahan agar sastra Jawa mendapat tempat memadai untuk beraktualisasi. Tak cuma di antara para kreator, tetapi juga dengan pihak lain, terutama pengambil kebijakan dan pemangku kewenangan dalam pemublikasian serta penyosialisasian sastra Jawa.

Karena itu, KSJ II perlu mengaktulisasikan hal tersebut. Tak hanya pada tataran konseptual, tetapi pada dataran praksis, terutama untuk mentradisikan (kembali) pembacaan dan penulisan sastra Jawa.

Diharapkan forum itu dapat menjadi ajang untuk mengaji ulang dan menindaklanjuti hasil Kongres I Sastra Jawa. Selain itu, untuk merumuskan rencana strategis guna mewujudkan kemitraan demi kehidupan sastra Jawa yang lebih sehat dan produktif. (Achiar M Permana-53)

Sumber: Suara Merdeka, 27 Juli 2006

Monday, April 24, 2006

Katalog Allegorical Subjects Galeri Semarang
''Binatang Jalang'' karya Agapetus

Sing Mudha sing Nggelar Kongres Sastra Jawa

YEN ora ana pepalang, 2-3 Juli 2006 para mudha sastrawan Jawa bakal nggelar Kongres Sastra Jawa (KSJ) II ing Semarang. Kamangka, manut rantaman, ing Kota ATLAS iku let sedina sawise, 5-10 Juli 2006, uga bakal diadani Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV. Geneya ndadak digelar Kongres Sastra Jawa, yen pemerintah wae wis nyepaki prabeya luwih saka limang milyar rupiah kanggo Kongres Bahasa Jawa sing uga nduwe komisi sastra?

Ngrembug KSJ II pancen ora bisa nglalekake karo mula bukane patemon mirunggan tumrap para sastrawan, guru/akademisi/kritikus, aktivis sanggar, sarta pengelola media abasa Jawa iku. Udakara sepuluh taun kepungkur, ing satengah-tengahe KBJ II, thukul rasa runtike para sastrawan Jawa. Para sastrawan kuciwa jalaran saben-saben dianakake kongres, sastra Jawa ora entuk kawigaten kang murwat. Kapara para sastrawane, sing sasuwene iki bebasan niba-tangi karo basa lan sastra Jawa ing tlatah cengkar, prasasat dikiwakake jroning pasamuwan kasebut.

Kayadene gumlindhinge bal salju, rasa kuciwa mau selot suwe saya ngrembaka. Nganti sawijining dina ing awal taun 2001, mapan ing daleme Ketua Sanggar Triwida, Sunarko "Sodrun" Budiman ing Tulungagung Jawa Timur, sawetara sastrawan padha ketemu. Ing kono dirembug perlune digelar Kongres Sastra Jawa, mbarengi KBJ III. Pamrihe bisa dadi alternatif tumrap para sastrawan lan sutresna sastra Jawa sing ora keconggah mbayar prabeya melu KBJ sing nganti setengah yuta rupiah iku.

Tenan, dimotori para sastrawan mudha, kayadene Daniel Tito, Keliek SW, Bonari Nabonenar, Suwardi Endraswara, Sunarko, Yudeth, lan sinengkuyung sastrawan golongan sepuh kayadene JFX Hoery, Suparto Brata, lan Ruswardyatmo, KSJ I kelakon kagelar ing Taman Budaya Surakarta, 6-7 Juli 2001. Underaning perkara kang dirembug nalika semana "Sastra Jawa: Menyikapi Fenomena Kekinian Menyongsong Masa Depan".

Udakara satus satrawan, wartawan, akademisi, lan sutresna sastra Jawa, sing akeh-akehe kagolong generasi mudha, nekani gebyagan mau. Senajan digelar apa anane, jer sarwasekeng ing perkara prabeya -peserta mung ditarik Rp 20.000, iku wae banjur dibalekake karo gawan arupa buku naskah drama Jawa- kongres tetela kuwawa dhudhah-dudhah masalah sarta golek dalan kanggo ngatasine. Kejaba gedhe panyekuyunge Arswendo Atmowiloto, WS Rendra, Bambang Sadono, Murtidjono, lan N Sakdani kanthi arupa soroh bau-suku nganti tekan bandha-prabeya, tekad kang adoh saka motif "melu payu" apamaneh "golek bathi" nanging kepara "wani tombok" saka para panitia mau, ndadekake kongres sing ragade ora sepira iku ora kalah grengsenge.

Saka kono banjur kababar rekomendasi, kang kapilah dadi rong perangan: pola operasional lan tindak lanjut. Kang klebu pola operasional, upamane, perlu rekadaya amrih sastra Jawa mlebu sekolah lan pawiyatan luhur kanthi nggeret para pengarang, kejaba pemanggungan sastra Jawa kanthi ajeg. Perlu uga didhapuk sesambungan (networking) karo bebadan seni-budaya (klebu kabudayan liya), ing tataran antarindividu, antarkomunitas pengarang Jawa, sarta karo komunitas sastra liyane.

Saliyane iku, perlu diupayakake penerbitan alternatif arupa majalah sastra Jawa lan buku kanggo mbabar wohing kreativitase pengarang. Tumrap para mudha, perlu disengkudake anggone mbangun kantong-kantong sastra Jawa. Dene kang klebu tindak lanjut, putusane KSJ bakal enggal-enggal ditindaklanjuti sarta KSJ sabanjure bakal kaleksanan telung taun maneh.

Butuh Memitran

Limang taun lumaku, pranyata ora gampang mujudake pepenginan mau. Saperangan akeh mung kandheg jroning rekomendasi. Para penggagas KSJ bacute banjur nglenggana manawa ngurip-uripi lan ngrembakakake sastra Jawa sengara bisa tanpa memitran karo pihak-pihak liya. Luwih saka sepuluh sanggar/paguyuban pengarang/dewan kesenian sing sumebar ing telung provinsi lan nyengkuyung kangres kasebut, durung cukup kanggo mujudake sakabehing rekomendasi. Mula ing KSJ II, tema kang pinilih "Membangun Kemitraan untuk Sastra Jawa".

"Urip lan ngrembakane sastra Jawa ora mung gumantung ana ing tangane para kreatore, nanging uga ing tangane stakeholders liyane, kayata penerbit, guru, redaktur, pemerintah, lan pihak swasta kang gelem modali," pratelane Suwardi Endraswara, sastrawan Jawa saka Ngayogyakarta, ing sawijining parepatan prakongres.

Bebarengan karo iku, semangat perlawanan marang KBJ sing nate katon makantar-makantar, wiwit disisihake. Mula rada beda karo KSJ I, ing KSJ II semangat perlawanan marang KBJ temene wiwit dikiwakake.

"Nanging bab kemandirian lan pikiran kang luwih progresif amrih sastra lan basa Jawa katon luwih seger, sumringah, lan anyar tetep ditengenake. Ora maido, kongres iki dimotori kadang-kadang pengarang lan akademisi mudha kanthi panyengkuyunge para sastrawan sepuh," pratelane Ketua Panitia KSJ II, Sendang Mulyana.

Rupa sing ''isih seger'', iku sajake sing bakal dadi dodolane KSJ. Iku ketara banget olehe nggandheng karo kalangan mahasiswa jroning nganakake acara-acara prakongres ing Semarang.

''Seret lan surute basa lan sastra Jawa ora uwal saka olehe ngiwakake generasi mudha. Sasuwene iku golongan sepuh luwih katon dominan, sahingga generasi mudha dadi ora kesengsem. Upamane dienggo ya mung dadi pupuk bawang, timun wungkuk jaga imbuh,'' pratelane Wage Tegoeh Wiyono, Ketua Komite sastra Dewan Kesenian Semarang, kang nyengkuyung KSJ II.

Nanging geneya KSJ digelar meh bareng wektune karo KBJ? "Iku mung dhapur ngepasi. Racake pengarang Jawa iku rak profesine guru. Kapinujon awal Juli mengko liburan, mula supaya kabeh bisa rawuh lan ora keganggu pakaryane, kongres dianakake awal Juli," ujare Bonari Nabonenar kang jejer minangka Sekretaris KSJ II.

Pancen, ora dhapur nglegani rasa kuciwa, KSJ uga kaangkah bisa dadi formula kritik konstruktif lan mekanisme kontrol tumrap penyelenggaraan kongres liyane amrih bisa lumaku luwih efisien lan efektif. Kejaba iku, sinergi uga bisa kabangun wiwit saka tataran wacana nganti tekan aksi, klebu karo Kongres Bahasa Tegal, sing dianakake 4 April 2006. Mula nalika nggelar sarasehan kang minangka pemanasan tumuju KSJ II, Selasa (18/4) kepungkur, dipilih tema "Sastra Tegalan dan Banyumasan: Potret Sastra Jawa Pinggiran".

Saeba endahe kalamun kabeh kang nduwe tekad lan semangat ngurip-uripi basa lan sastra Jawa mau gelem padha gegandhengan tangan, makarya bebarengan, tanpa ana sing rumangsa luwih hebat dibandhingake siji lan sijine. (Sucipto Hadi Purnomo-35)

Sumber: ''Sang Pamomong'', Suara Merdeka, 23 April 2006

Tuesday, April 18, 2006

Sastra Jawa yang Meminggirkan Diri

"JANGANKAN sastra Jawa, secara sunnatullah sastra pun termasuk pinggiran atau tepatnya terpinggirkan," cetus dosen Sastra Jawa Unnes, Drs Teguh Supriyanto MHum.

Teguh melontarkan hal itu ketika jadi pembicara dalam diskusi Malam Rebo Legen di Sanggar Seni Paramesthi, Jalan Kelud Utara III, kampus lama Unnes, Selasa (18/4) malam. Tema diskusi itu tak lain perikehidupan sastra Jawa pinggiran.

Diskusi itu dihelat sebagai "pemanasan" menjelang Kongres II Sastra Jawa yang rencananya diadakan di Semarang pada 2-3 Juli. Pembicara lain adalah sastrawan asal Tegal, Eko Tunas. Diskusi yang berlangsung gayeng itu dipandu Sucipto Hadi Purnomo, dosen Sastra Jawa Unnes yang juga penulis cerita bersambung Saridin Mokong di Suara Merdeka.

"Persoalannya sekarang, siapa yang meminggirkan sastra Jawa? Bukan pemerintah, bukan pula sastra Indonesia. Menurut pendapat saya, kalangan sastra Jawa sendiri yang meminggirkan diri," ujar pria kelahiran Purbalingga itu.

Di sesela diskusi, Teguh yang juga dalang itu menyempatkan unjuk kebolehan melantunkan sulukan ala dalang Ki Sugino Siswocarito yang khas banyumasan. Tarikan vokalnya yang di-blero-kan sebagai Bawor, yang di luar Banyumas lebih dikenal dengan sebutan Bagong, tak urung menerbitkan tepukan.

Diskusi berlangsung seru dengan kehadiran para pencinta budaya Jawa yang menjadi "pelanggan" Malam Rebo Legen. Hadir antara lain Ketua Panitia Kongres II Sastra Jawa Sendang Mulyana, dalang wayang dongeng Ki Trontong Sadewa, serta sastrawan Jawa senior Ariesta Widya.

Egaliter

Sementara itu, Eko Tunas mengungkapkan perihal kekuatan bahasa Tegal sebagai alat ekspresi. Kekayaan bahasa dari ranah pesisiran itu, kata dia, memungkinkan wong Tegal menggunakan untuk menyampaikan gagasan, termasuk dalam soal sastra. Bahasa Tegal juga berpengaruh besar terhadap mentalitas sang penutur, membuat mereka terdidik untuk jujur, egaliter, dan terbuka.

"Basa Tegal kuwi laka aling-aling, laka unggah-ungguh. Dhes," ujarnya dalam bahasa Tegal yang kental.

Sebelum tampil sebagai pembicara, Eko Tunas yang dikenal sebagai sastrawan dan aktor teater itu menghadiahkan geguritan khas tegalan.

Dia membacakan puisi yang mengungkap tentang keserakahan manusia pada era sekarang yang lebih mengedepankan otak ketimbang hati itu. "Padahal, sepandai-pandai orang yang berpikir dengan otak akan mencipta bom. Sebaliknya, orang yang berpikir dengan hati atau rasa, akan selalau melandasi setiap tindakannya dengan kasih sayang." (Achiar M Permana-53)

Sumber: Suara Merdeka, 19 April 2006
Dekatkan Sastra Jawa ke Kalangan Muda
--Jelang Kongres Sastra Jawa II di Semarang

SEMARANG-Seret dan surutnya perkembangan bahasa dan sastra Jawa disebabkan oleh kurang terakomodasinya kalangan. Pengembangan warisan budaya itu lebih didominasi oleh peran golongan sepuh dan kurang melibatkan anak-anak muda. Akibatnya, kalangan muda cenderung kurang tertarik pada bahasa dan sastra Jawa.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Kongres Sastra Jawa (KSJ) II Sendang Mulyana, di Semarang, Minggu (16/4). Dijelaskannya, kalangan muda merupakan masa depan budaya Jawa. Oleh karena itu, penyelenggaraan KSJ II dilandasi oleh semangat untuk melibatkan anak-anak muda.

''Sastra Jawa perlu lebih didekatkan ke kalangan muda supaya bisa berkembang. Jika itu tak dilakukan, saya kira, bahasa dan sastra Jawa akan mati lebih dini,'' kata Sendang.

Dijelaskannya, KSJ II akan dilaksanakan di Semarang, 30 Juni-2 Juli mendatang. Kegiatan itu merupakan kelanjutan KSJ I, yang digelar di Surakarta pada 2001 lalu. Rencananya, sejumlah tokoh sastra Jawa akan hadir dalam kongres partikelir itu, antara lain Rendra, Arswendo Atmowiloto, dan Suparto Brata.

Terpisah, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Wage Tegoeh Wijono menyatakan dukungan atas penyelenggaraan KSJ II. Dia menyediakan diri untuk menggerakkan para pekerja seni di kampus untuk terlibat aktif dalam kampanye sastra Jawa itu.

''Tak mungkin mengharapkan sastra Jawa berkembang tanpa melibatkan anak-anak muda. Mereka memiliki potensi yang amat besar, tapi seringkali diabaikan,'' ujar Wage yang juga penyair itu.

Gandeng Kampus

Sendang menjelaskan, realisasi dari upaya mengakomodasi kalangan muda itu dilakukan dengan menggandeng kampus. Dikatakannya, pihaknya telah melakukan pembicaraan awal dengan tiga perguruan tinggi negeri terkemuka di Semarang, yakni Undip, Unnes, dan IAIN Walisongo. Selain itu, pembicaraan serupa juga dilakukan dengan PTS, seperti Universitas Dian Nuswantoro dan IKIP PGRI.

''Pembicaraan intensif terutama kami lakukan dengan pihak mahasiswa, melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM),'' ujar mahasiswa S2 Magister Ilmu Susastra Undip itu.

Dengan kalangan mahasiswa, panitia akan berkeliling dari kampus ke kampus, untuk mengampanyekan sastra Jawa. Bekerja sama dengan UKM, mereka akan menyelenggarakan pementasan dan diskusi, sebagai rangkaian persiapan menjelang KSJ II. Termasuk di dalamnya, pembacaan geguritan, cerita cekak, dan tembang macapat.

''Itu dilakukan, untuk membuat KSJ II lebih terasa grengsengnya,'' kata dia.

Dia menambahkan, sejauh ini sudah ada sejumlah kantong kesenian Jawa di Jateng, Jatim, dan Yogyakarta yang mendukung penyelenggaraan KSJ II. Mereka antara lain Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Sanggar Triwida Tulungagung, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta, Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, Forum Kajian dan Praksis Sastra Jawa, serta Sanggar Seni Paramesthi dari Semarang.

''Kami berharap, kalangan dewan kesenian kabupaten/kota dan kantong-kantong kesenian lainnya ikut nyengkuyung KSJ.'' (Achiar M Permana/CN05)

Sumber: SM Cybernews, 16 Maret 2006
Sastra lan Pengarang Jawa Durung Mati

MUNG kaya impen. Ora nyana ora ngira yen sastra Jawa gagrag anyar isih ana, isih urip, isih eksis, isih nduweni jatidhiri. Kamangka dhek taun 1980, nalika aku isih clondho lan durung paja-paja anggonku srawung karo sastra Jawa, ana kabar dhuhkita kang ngumandhang nyuwak akasa sing punjere saka pendhapa Sasonomulyo, kompleks Kraton Kasunanan Surakarta.

Unine kabar kang satemah kelakon gawe geger lan nganti seprene isih tansah dumeling yakuwi: sastra Jawa wis mati. Wis pralaya bareng karo kukute penerbitan basa Jawa kang wektu semana pancen wis nuduhake titikan-titikan kuwat bakal gumebrug kantaka ndhepani bumi.

Sing nggawa kabar ora liya Arswendo Atmowiloto, wong Sala sing nate nggethu lelumban ing madyaning sastra Jawa bebarengan karo N Sakdani Darmopamudjo, Muryalelana, Moch Nursyahid P, lan Andjar Any kanthi nerbitake koran basa Jawa Dharma Nyata. Jalaran ora tlaten karo budaya Sala kang nguler kambang, Arswendo wusana kendhang tekan Jakarta, nyambut gawe ana sawenehe penerbitan nasional, lan kelakon ngrengkuh kemukten.

Mula, nekani undhangan sarasehan sastra Jawa ing taun 1980 kuwi, kang diadani PKJT (Pengembangan Kesenian Jawa Tengah) , sawijining Proyek Pelita kang dipandhengi dening budayawan SD Humardani alias Pak Gendhon, Arswendo kandha yen pengarang sastra Jawa dekade 70-an mujudake generasi pungkasan.

Tumrap Arswendo, nekani sarasehan sastra Jawa nalika kuwi ibarate nglayat utawa jiyarah kubur: kuburan sastra Jawa. Nyatane tekan seprene sastra Jawa isih ana, isih urip. Sawetara majalah basa Jawa pancen wusana kukut, ora kuwagang mbacutake leladi ing alam industrialisasi. Alam kang manjer umbul-umbul "ekonomi minangka panglima" sarta ideologi nasionalitas luwih penting tinimbang etnisitas, globalitas luwih wigati katimbang lokalitas.

Nyatane sastra Jawa bisa nuduhake kekuwatane kang sayekti gawe pangeram-eram tumrap sapa wae. Senajan disikara lan disiya-siya, sastra Jawa bisa ngliwati gawate dalan rumpil lan kahanan kang sarwa nggegirisi kuwi. Ibarat tanduran kang ora diopeni, kepara tansah dipunthes amrih enggal tumekeng pati, nanging nyatane tansah thukul, trubus, lan ngembang.

Kuwat Terbit

Sawetara majalah basa Jawa basa isih kuwat terbit seminggu sepisan, ing Surabaya lan Ngayogyakarta. Sawenehing surat kabar (basa Indonesia) kang terbit ing Surabaya iya mbukak rubrik "Suket" lan ngemot geguritan. Semono uga sawijining surat kabar kang terbit ing Ngayogyakarta iya macak karya sastra basa Jawa mujud geguritan, crita cekak, roman sejarah, crita layang, lan artikel-artikel kasusastran lan kabudayan.

Koran Suara Merdeka ora eman "korban" setengah kaca kanggo rubrik basa Jawa "Sang Pamomong", rong minggu sepisan, lan saben dina momot crita sambung. (Ora mokal yen ing tembe kapling "Sang Pamomong" dadi sakaca, lan bisa muncul seminggu sepisan). Malah durung suwe iki ing Jakarta klakon terbit majalah basa Jawa Damar Jati, terbit rong minggu sepisan, nyusul majalah Parikesit kang sempat blabar kawat ora ketang mung sapenginang.

Cetha trawaca yen pengarang sastra Jawa dekade 70-an dudu generasi pungkasan. Nyatane barisan pengarang dekade 80-an iya lair lan konsisten kreatif ngasilake karya sastra lumantar hudayana basa Jawa kang ana. Ing antarane: Ismoe Riyanto, Tiwiek SA, Yunani, Suhamono Kasiyum, Tony Ismoyo, FC Pamudji, Slamet Isnandar, Yes Ismie Suryaadmadja, Suryanto Sastroadmodjo, lan sapiturute.

Pengarang dekade 90-an uga nyusul lair, kaya ta: Suwardi Edraswara, Titah Rahayu, Ardini Pangastuti, Triman Laksana, Djaimin K, Sunarko Budiman, Margareth Widhy Pratiwi, Budi Palopo, Widodo Basuki, Es Danar Pangeran, Krisna Mihardja, Moh Yamin, Suhindriyo, Bonari Nabonenar, St Sri Purnanto, Sri Sugiyanto, lan liya-liyane. Malah pengarang dekade taun 2000 uga ora sethithik: Irul Es Budianto, Parpal Purwanto, Sumono Sandy Asmoro, Yan Tohari, Siti Aminah, Aris P, W Haryanto, lan sateruse.

Aku percaya yen ing dekadhe-dekadhe sabanjure isih bakal muncul pengarang sastra Jawa kadidene generasi penerus. Waton isih ana hudayana kang nampung karya-karyane para pengarang sastra Jawa.

Sacara teori, majalah-majalah basa Jawa iya bakal tansah setya leladi waton wong Jawa isih mbutuhake majalah mau. Generasi mudha ora bakal ninggalake basa Jawa sauger para wong tuwa tansah paring tuntunan lan tepa tuladha, sarta kasengkuyung pehak pamarentah lumantar lembaga-lembaga sing kejibah uta kang kawogan.

Mula saka kuwi perlu kebijakan-kebijakan strategis ora mung tinulis ing lumahe kertas. Kebijakan sing sipate operasional, nggepok langsung underaning prekara kang tinemu ing lapangan. Ora mung kandheg ing forum seminar utawa kongres.

Nilai Tambah

Ana penemu yen ngopeni basa Jawa utawa basa dhaerah ing era globalisasi mujudake kemunduran. Nyinau basa dhaerah tumrap para pelajar dianggep wis ora relevan karo owah gingsire jaman. Ora nduweni "nilai tambah" kawawas sacara pragmatis-ekonomis. Nyinau basa Indonesia sipate wajib. Nyinau basa asing dianggep luwih trep kanggo ngawekani tantangan jaman. Lan sacara psikologis dianggap luwih nduweni gengsi.

Kudu dikandhakake yen sakehe panemu kasebut ndhuwur ora bener lan dudu patrap kang wicaksana. Sepisan, nglirwakake basa dhaerah ateges ngiyanati konstitusi, ateges ora ngakoni ke-bhineka-an. Mersudi basa Indonesia minangka basa nasional apadene mersudi basa asing kanggo kepentingan komunikasi global, ora kudu nyingkirake idhentitas-idhentitas lokal klebu basa dhaerah.

Kapidho, ngopeni sakehe idhentitas lokal klebu basa dhaerah nuduhake manawa bangsa Indonesia mujudake bangsa kang nduweni jatidhiri, nduweni martabat, saengga ora gampang kaombang-ambingake ombyake kabudayan global. Anane patrap arogan, anarkhis, menang-menangan, lan sapiturute nuduhake yen bangsa Indonesia ngalami krisis moral, krisis budi pekerti, krisis idhentitas nasional. Patrap konsumeristik lan komersialistis uga dadi pituduh yen bangsa iki wis kelangan jatidhiri saengga kanthi gampang dijajah bangsa asing sacara ekonomis, ideologis, lan kulturalistis.

Sejarah wis mbuketake yen krisis multidimensi kang nrajang bangsa kita nganti kedawa-dawa kawiwitan saka anane kebijakan politis kang nyoba nyisihake idhentitas lokal sing sejatine iya mujudake peranganing idhentitas nasional. Wis wayahe bangsa Indonesia mawas dhiri sarta ngawekani dhegradasi jatidhiri mau, sadurunge kadhung kebacut ambles ing tataran kang mbebayani. Jatidhiri bangsa kudu dijejegake maneh. Lan bab iku bisa kawiwitan, ing antarane, krana marsudi basa dhaerah minangka perangane idhentitas lokal. Marsudi basa dhaerah luwih enak, luwih kepenak, luwih nengsemake, luwih "urip" yen ana aspek rekreatif.

Kahanan mangkono mau bisa maujud lamun pambudi daya nyinau basa dhaerah disengkuyung buku-buku wacan kang nyenengake. Wujude buku wacan werna-werna: dongeng, crita bocah, crita remaja, crita cekak, crita wayang, roman sejarah, alaming lelembut, crita sambung, geguritan, lan sapiturute.

Pasinaon

Sakehe jinis wacan mau isih tinemu ing majalah-majalah basa Jawa. Luwih prayoga yen sakehe jinis wacan mau diterbitake dadi buku, saengga bisa luwih "awet", bisa diwarisake kanggo generasi penerus. Kanthi mangkono, wragad kanggo nyithak buku bisa murakabi.

Bebadan penerbit Balai Pustaka duweke pamarentah wis kepara suwe ora nyithak buku-buku wacan basa Jawa. Saumpama isih nyithak iya angel digoleki ing pasaran. Semono uga badan penerbit partikelir sajak kipa-kipa.

Kanyatan mangkono mau muga-muga bisa mbangkitake idhealismene para pengarang sastra Jawa kanggo nerbitake buku kang ngemot karya-karyane dhewe. Yen saben taun ana pengarang cacah sepuluh sing gelem nerbitake buku, sajroning limang taun utawa sepuluh taun wis bisa dietung pira gunggunge buku-buku wacan kang terbit. Yen pehak pamarentah utawa kang kawogan gelem migunakakake buku-buku wacan mau kanggo nyengkuyung lumakune pasinaon/wulangan basa Jawa ing sekolahan, limang taun utawa sepuluh taun engkas bakal bisa dimangerteni kepriye asile.

Andharan sapala wujud gagasan iki bandhane pancen idealisme. Gagasan iki uga isih mbutuhake pirembugan lan dhiskusi mirunggan. Muga-muga wae para kanca pengarang sastra Jawa, pihak pamarentah utawa kang kawogan, lan sapa wae kang nduweni kawigaten marang urip lan ngrembakane basa lan sastra Jawa kesdu paring tanggapan arupa eguh utawa pratikel kang luwih mupangati. Muga-muga wae gagasan iki uga dudu impen wayah awan tengange. (Sugeng Wiyadi, dosen FBS Universitas Negeri Surabaya)

Sumber: Suara Merdeka, "Sang Pamomong", 26 Februari 2006
Keputusan Kongres Sastra Jawa I

1. Pendahuluan

Kongres Sastra Jawa (KSJ) diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, tanggal 6-7 Juli 2001 dengan tema ''Sastra Jawa: Menyikapi Fenomena Kekinian Menyongsong Masa Depan'', atas prakarsa para pengarang muda. KSJ didukung oleh Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta dan beberapa pihak, di antaranya Arswendo Atmowiloto, WS Rendra, Bambang Sadono, Murtidjono, dan N. Sakdani Darmopamudjo.

KSJ diikuti 80 peserta terdiri dari pengarang, pengamat dan pemerhati sastra, akademisi dan peneliti, dalang, serta birokrat lembaga seni budaya dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur.

Secara umum, KSJ mewadahi tiga komisi, yaitu komisi kreativitas kepengarangan, komisi organisasi, dan komisi pemasyarakatan sastra Jawa. Di samping persidangan-persidangan resmi, juga ada dialog nonformal. Setelah mengikuti jalannya persidangan formal maupun dialog nonformal, Panitia berhasil merumuskan dua keputusan, berupa Pola Operasional dan Tindak Lanjut.

2. Pola Operasional

Perlu diupayakan sastra Jawa masuk sekolah dan Perguruan Tinggi dengan melibatkan pengarang. Perlu pemanggungan sastra Jawa secara berkala, misalnya festival sastra Jawa, sebagai ajang komunikasi kreativitas antarpengarang.

Perlu ruang-ruang performance sebagai sosialisasi sastra Jawa, misalnya festival dan pertunjukan-pertunjukan lain, secara berkala maupun insidental. Perlu dibentuk networking dengan lembaga seni-budaya dan ranah kebudayaan yang lain, baik antarindividu, antarkomunitas pengarang sastra Jawa maupun dengan komunitas sastra lain.

Untuk mewadahi kreativitas sekaligus memperluas ruang ekspresi estetis, perlu diupayakan penerbitan alternatif berupa majalah sastra Jawa secara berkala dan buku-buku yang memuat karya sastra Jawa. Diperlukan upaya untuk merangsang kreativitas pengarang sastra Jawa, terutama kalangan muda, dengan membangun kantong-kantong sastra Jawa. Perlu komunikasi dan pertemuan berkala untuk membahas isu-isu sastra sekaligus menyikapi akselerasi perkembangan sastra Jawa.

3. Tindak Lanjut

Keputusan KBJ akan segera ditindaklanjuti. Adapun KSJ berikutnya dilaksanakan 3 (tiga) tahun mendatang dengan waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.

Surakarta, 7 Juli 2001
Panitia KSJ

Monday, April 17, 2006

Peluncuran Perdana

SM/Achiar MP
PELUNCURAN KSJ II: Sastrawan Jawa Bonari Nabonenar (Surabaya) menyampaikan paparan ''Masa Depan Sastra Jawa'' pada peluncuran Kongres Sastra Jawa (KSJ) II di Sanggar Seni Paramesthi Jl Kelud Utara III (Unnes Lama), Selasa (14/3).

Spirit Perlawanan Para Sastrawan (Jawa)

SEJURUS setelah menerima tumpeng dari peneliti sastra Jawa Sri Widati Pradopo (Yogyakarta), Sendang Mulyana yang ketiban sampur menjadi Ketua Panitia Kongres Sastra Jawa (KSJ) II, meneguhkan niatnya. Lewat sebuah tembang ''Pangkur'', dia mendedahkan tekad menggelar kongres yang mengusung tema ''Membangun Kemitraan untuk Sastra Jawa'' itu.

''Singgah-singgah kala singgah, pan suminggah durgakala sumingkir,'' lantunnya.

Ya, di hadapan para pemerhati sastra Jawa yang hadir di Sanggar Seni Paramesthi Jl Kelud Utara III (Unnes Lama), Selasa (14/3), kongres partikelir itu baru saja diresmikan. Rencananya, KSJ II akan dilaksanakan di Semarang, 30 Juni-2 Juli mendatang, sepekan sebelum Kongres Bahasa Jawa (KBJ) IV yang juga digelar di Kota ATLAS.

''Singa sirah singa suku, singa tan kasat mata, singa tenggak singa wulu singa bahu, kabeh pada sumingkira ing telenging jalanidhi,'' Sendang merampungkan tembangnya, yang disambut oleh tepuk tangan hadirin.

Terlihat di antara mereka, sastrawan Jawa Bonari Nabonenar (Surabaya), dosen Sastra Jawa FBS UNY Suwardi Endraswara, Dhanu Priyo Prabowo (Balai Bahasa Yogyakarta), dan Narko Sudrun Budiman (Tulungagung). Mereka menyengaja datang untuk turut mangayubagya peluncuran KSJ II.

Pada kesempatan itu, secara bergantian tampil para pencinta sastra Jawa, untuk melantunkan sekar macapat atau membacakan geguritan. Kebetulan, hari itu juga bertepatan dengan penyelenggaraan Rebo Legen, yang rutin digelar Sanggar Seni Paramesthi saban 35 hari sekali. Hanya saja, terkait dengan peluncuran KSJ II, Rebo Legen yang biasanya dilaksanakan malam hari dipindahkan waktunya.

Meretas Penghalang

Ya, lewat tembang ''Pangkur'' itu, Sendang seperti menegaskan tekad panitia KSJ untuk meretas semua aral yang menjadi penghalang. Paling tidak, dukungan sejumlah kantong kesenian Jawa di Jateng, Jatim, dan Yogyakarta menjadi penopang tekadnya.

Tercatat, KSJ II didukung oleh Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Sanggar Triwida Tulungagung, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta, Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, Forum Kajian dan Praksis Sastra Jawa, serta Sanggar Seni Paramesthi dari Semarang.

''KSJ II ini diselenggarakan atas prinsip kegotongroyongan di antara para sastrawan Jawa, akademisi, peneliti, dan pemangku wewenang dalam pengembangan sastra Jawa. Soal biaya, tentu tidak sebanding dengan kongres lain yang dibiayai hingga lima miliar rupiah,'' kata mahasiswa Magister Ilmu Susastra Undip itu.

Dikatakannya, panitia telah menjalin komunikasi dengan sastrawan Arswendo Atmowiloto, Suparto Brata, WS Rendra, hingga Ketua Yayasan Rancage Ajib Rosidi untuk menjadi pembicara dalam agenda kongres. Dari kalangan kampus, komunikasi serupa dilakukan dengan Prof Dr Sapardi Djoko Damono (UI Jakarta), Prof Dr Suminto A Sayuti (UNY Yogyakarta, dan Prof Dr Setyo Yuwono Sudikan (Unesa Surabaya).

Sementara itu, salah seorang penggagas KSJ II Bonari Nabonenar mengatakan, kongres itu merupakan kelanjutan dari KSJ I yang sukses digelar di Surakarta, pada 2001. Hal itu diperkuat oleh hasil pertemuan sastrawan Jawa-kritikus di Bojonegoro, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Tulungagung selama 2004-2005, yang menandaskan perlunya digelar KSJ II.

''Perhelatan yang diberi nama kongres tentu akan membawa semangat yang sangat berbeda, dibandingkan jika dinamai pertemuan, sarasehan, atau semacamnya. Pada pertemuan atau sarasehan sastra Jawa, biasanya cuma berisi kata sambat atau tawang-tawang tangis,'' katanya. (Achiar M Permana)

Sumber: Suara Merdeka, 15 Maret 2006